Saat Pemerintah Jokowi Tak Mau Campuri China Soal Muslim Uighur
Diskriminasi pemerintah China kepada masyarakat Uighur
membuat masyarakat dunia kembali bersuara. Salah satunya Indonesia. Seperti yang
diketahui, masyarakat Uighur adalah etnis minoritas di China. Jumlah masyarakat
Uighur yang juga mencapai jutaan orang berada di Xinjiang, China.
Ada banyak juga penyiksaan yang telah dirasakan masyarakat
Uighur. Ada banyak 2.500 masyarakat Uighur yang dimasukkan ke kamp pendidikan
ulang China. Di sana, masyarakat Uighur juga diajari bahasa mandarin hingga
dipaksa untuk mengaku dosa. Tidak hanya itu saja, di kamp tersebut juga ada banyak
masyarakat Uighur yang memang mengalami penyiksaan.
Menurut informasi dari Sayragul Sauytbay, seorang guru yang
melarikan diri dari China dan juga mendapat suaka di Swedia, masyarakat Uighur juga
telah ditempatkan di kamar tahanan berukuran 16 meter persegi yang dihuni oleh 20
orang. Tidak hanya itu saja, komandan kamp menyediakan ruang untuk penyiksaan
yang disebut "ruang gelap".
Beragam jenis penyiksaan yang juga dihadapi oleh para
tahanan yang seperti digantung di tembok, dipukul dengan menggunakan tongkat
elektrik. Ada juga kuku tahanan yang dicabut. Bahkan tahanan dijadikan kelinci
percobaan untuk medis hingga tahanan wanita diperkosa dengan cara bergilir.
Tapi kamp-kamp tersebut diklaim China menjadi tempat
pelatihan kejuruan, bukan tempat penyiksaan. Di PBB, juga ada yang membela dan sering
mengkritik tindakan China di Xinjiang. Pada bulan akhir Oktober lalu, 23 negara
termasuk Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat telah menyuarakan penindasan
China atas masyarakat Uighur di Komite PBB dengan Hubungan Sosial, Kemanusiaan,
dan Kebudayaan. Tapi Beijing mendapat dukungan dari 54 negara, yang juga memuji
pemerintahan Partai Komunis di Xinjiang.
Masyarakat Indonesia yang semuanya mayoritas muslim pun juga
bersuara menolak perlakuan pemerintah China kepada etnis Uighur. Desakan bahkan
datang kepada pemerintah RI supaya bersuara lantang dan juga menentang
perlakuan China kepada etnis Uighur. Tapi, pemerintah hingga kini belum
menunjukkan sikap mengecam kepada China.
Mahfud MD Sudah Berbicara dengan Dubes China
Menko Polhukam Mahfud MD juga mengaku telah berbicara dengan
Duta Besar China untuk Indonesia, Xiao Qian, secara langsung terkait dengan Uighur.
"Saya sudah berbicara dengan Dubes China tentang Uighur
khusus. Saya tanya tentang Uighur. Orang Indonesia juga memang banyak bertanya,
banyak protes," katanya di Jakarta, Kamis (19/12).
Menurutnya, di China ini banyak sekali para pemeluk agama
Islam dan juga sampai sekarang tak apa-apa.
"Kecuali Uighur, karena Uighur memang mempunyai agenda
sendiri di luar kerangka negara," ujarnya.
Mahfud MD Sebut Pemerintah RI Tak Ikut Campur Dengan Masalah
Uighur
Menko Polhukam Mahfud MD telah menegaskan, sebagai umat
muslim terusik dengan apa yang telah terjadi dengan suku Uighur di China.
Secara diplomasi, Indonesia sudah memanggil duta besar China. Usai pertemuan
itu, Mahfud juga menegaskan pemerintah Indonesia tidak akan ikut campur. Dan akan
menanyakan itulah bagian dari diplomasi yang dimaksud dengan diplomasi lunak.
"Gini ya Uighur itu, kita juga memang punya hubungan
diplomatik dengan China. Oleh karena itu tak mungkin tak melakukan diplomasi.
Cuma, diplomasi kita juga bukan diplomasi megaphone," ungkap Mahfud di
Jakarta, Kamis (26/12).
Moeldoko: Pemerintah RI Tak Ikut Campur Urusan Dalam Negeri
China
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan pemerintah
Indonesia tak mau ikut campur urusan negara China terkait masalah muslim
Uighur, di Xinjiang. Moeldoko juga telah menegaskan jika pemerintah tidak bisa
mengintervensi urusan dalam negeri China.
"Jadi pemerintah RI tak ikut campur pada urusan negara
China mengatur dalam negeri. Itu prinsip-prinsip dalam standar hubungan
internasional," kata Moeldoko di Kantor Staf Presiden Jakarta, Senin
(23/12).
Moeldoko menyatakan jika pemerintah Indonesia tidak akan
masuk ke dalam urusan negara manapun. Termasuk China. Menurutnya, setiap negara
juga memiliki kedaulatan untuk mengatur warga negaranya.
"Jadi pemerintah RI tak ikut campur pada urusan negara
China mengatur dalam negeri. Itu prinsip-prinsip dalam standar hubungan
internasional," ungkap dia.
Menlu Retno Marsudi: Indonesia juga Punya Perhatian Atas
Uighur
Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menilai, konflik etnis
Uighur dan juga China terjadi sejak lama. Saat ini, katanya, Indonesia terus
berkomunikasi dengan China membahas hal ini.
"Jadi saya juga pernah melakukan pertemuan dengan
dubesnya dan pasti teman-teman jika melihat rekam jejak digital dari Twitter
saya pasti ada," ungkapnya, Jumat (27/12).
Pemerintah Indonesia sudah melakukan pertemuan dengan
Menteri Luar Negeri China pada 16 Desember lalu. Pada pertemuan ini, Retno juga
menekankan pentingnya menghormati kebebasan beragama.
"Tanggal 23 Desember Dirjen Pasifik Asia ketemu dengan
dubes Tiongkok, intinya kita juga menyampaikan concern mengenai situasinya
terus kita juga akan meminta informasi apa yang terjadi dan dengan menteri luar
negeri RRT, kita cukup panjang berdiskusi mengenai masalah situasi, prinsipnya ialah
jika kita menyampaikan antara lain pentingnya untuk terus menghormati kebebasan
beragama," ungkapnya.
Dengan itu semua, Retno juga mengklaim jika Indonesia
mempunyai perhatian atas masalah di sana. "Jadi ini sehingga jika dikatakan
jika kita tak melakukan sesuatu itu tak benar, cek rekam jejak digital apa yang
pernah kita sampaikan ke pemerintah China," katanya.
DPR Juga Minta Pemerintah Lebih Proaktif
Anggota Komisi I DPR Sukamta telah meminta pemerintah
Indonesia untuk lebih proaktif merespons kegelisahan dari masyarakat terkait
kasus dugaan diskriminasi kepada etnis Uighur di China.
"Kami meminta pemerintah RI supaya menunjukkan sikap
lebih proaktif untuk merespons kegelisahan rakyat Indonesia," kata Sukamta
melalui keterangannya, Jumat (27/12).
Ketua DPP PKS ini juga telah meminta pemerintah tidak jalan
sendiri soal etnis Uighur. Pemerintah juga harus bersama rakyat Indonesia
memperjuangkan nasib mereka.
"Pemerintah kini boleh saja mengambil kebijakan bukan dari
model megaphone diplomacy, namun tolong sikap dan perjuangan Pemerintah RI atas
kasus Uighur ini juga terus dikomunikasikan dan ditunjukkan untuk rakyat yang sudah
memberi mandat untuk Pemerintah," kata Sukamta.
Demonstrasi di Kedubes China
Massa juga melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Kedubes
China di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (27/12). Massa juga mulai
berdatangan sekitar pukul 13.00 WIB. Mereka menyampaikan protes dari sikap
pemerintah China kepada etnis Uighur. Aksi ini juga telah diikuti oleh FPI dan
ormas-ormas lainnya.


Post a Comment