Sepak Terjang Anggota Marinir yang Gugur saat Bebaskan WNI dari Abu Sayyaf




Beberapa yang hari lalu, Indonesia telah mendapatkan kabar bahagia. Dua warga negaranya yang ditahan oleh Abu Sayyaf kini berhasil dibebaskan. Tapi, di balik itu semua memang ada kabar duka bagi Korps Marinir Filipina.

Sersan Romnick Estacio harus gugur dari upaya pembebasan WNI. Estacio gugur saat kontak senjata dengan kelompok Abu Sayyaf.

Kejadian nahas ini terjadi pada tanggal 22 Desember lalu di Panamao, Sulu. Kendati begitu, perjuangan dari anggota Marinir ini memang akan tetap diingat oleh bangsa Indonesia dan juga Filipina.

Lantas bagaimana sepak terjang dari anggota marinir yang gugur ini? Simak informasinya berikut ini.

Tewas Pada Saat Menyelamatkan WNI dari Abu Sayyaf

Meski bertaruh dengan nyawa, seorang tentara ini memang akan selalu melindungi masyarakat dari ancaman dan juga bahaya. Nampakny hal ini juga berlaku untuk sersan Romnick Estacio. Salah satu anggota dari Korps Marinir Filipina ini memang harus rela mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan WNI dari tangan kelompok bersenjata yakni Abu Sayyaf.

Kendati begitu, pada operasi tersebut marinir Filipina juga telah berhasil membebaskan dua nelayan yang berasal dari Indonesia. Diketahui keduanya adalah bernama Maharudin Lunani, 48 tahun dan Samion Bon Maniue, berumur 27 tahun. Keduanya juga dikabarkan sudah disandera Abu Sayyaf sejak September lalu bersama Muhammad Farhan.

"Ketika terjadi kontak senjata, kedua korban sandera ini bergegas untuk melarikan diri menjauh dari para penculik dan juga kami berhasil menyelamatkan mereka," kata Letnan Jenderal Cirilito Sobejana dari Komando Angkatan Darat Mindanao Barat.

Sosok Marinir Sejati

Kapten Jaraid Rea selaku dari Direktur Kantor Urusan Korps Marinir telah mengatakan, Estacio adalah sosok marinir sejati. Bagaimana tidak, Sersan yang bernama Romnick Estacio tela terlibat pada sejumlah operasi militer dan juga salah satunya di Mindanao.

"Rakyat Filipina telah berterima kasih kepada pahlawan marinir Sersan Estacio dan juga keluarganya. Tak ada kata mampu menggambarkan duka cita. Tapi sebagai apresiasi, rasa syukur bangsa ini lebih dari cukup untuk Marinir," ungkap pernyataan PMC.

Dikutip dari laman Manila Bulletin pekan lalu, Wakil Laksamana Robert Empedrad dari Angkatan Laut Filipina dan juga Mayor Jenderal Nathaniel Casem, memimpin upacara penghormatan terakhir kepada jasa Estacio di markas marinir, Marine Barracks Rudiardo Brown, Taguig City. Nantinya, jenazah Estacio akan dibawa ke kampung halamannya di La Union dan juga dikebumikan di Tarlac.

"Ia akan selalu dikenang menjadi marinir yang luar biasa, pahlawan hari ini."


Tidak hanya itu saja, Estacio juga ikut bertempur dalam upaya membebaskan Kota Marawi dari kelompok teroris Maute, 2017 lalu. Dari jasa dan upayanya, Estacio telah mendapatkan penghargaan Medali Salib Perunggu.

Penyerahan WNI Untuk Perwakilan Indonesia
Kedua WNI yang juga berhasil dibebaskan tersebut sudah diantar oleh Duta Besar RI untuk Filipina, Sinyo Sarundajang ke Indonesia, Kamis (26/12) lalu. Proses penyerahan ini juga telah dihadiri langsung oleh Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi dan juga keluarga dari masing-masing WNI.

"Dan akhirnya atas kerja sama kita semua pada hari ini kami saat ini secara resmi menyerahterimakan Pak Maharudin dan Pak Samiun untuk kembali bersama keluarga, setelah 90 hari terakhir mereka dalam kecemasan dan kebimbangan selama menjadi sandera di Filipina," kata Menteri Retno.


Menteri Pertahanan Indonesia Bertolak ke Filipina
Tidak hanya Menteri Luar Negeri saja, Menteri Pertahanan Indonesia, yakni Prabowo Subianto juga turut menyoroti kasus penyanderaan kepada WNI ini. Diketahui, masih ada tersisa satu WNI lagi yang masih berada di tangan Abu Sayyaf yakni Muhammad Farhan. Untuk melancarkan segala prosesnya, Prabowo bertolak ke Filipina guna untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan Filipina.

Dengan adanya pertemuan dua negara tersebut, diharapkan juga nantinya ada jalan baik dan upaya prevensi supaya kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali. Tidak hanya itu, Presiden Joko Widodo juga sudah meminta Rodrigo Duterte, Presiden Filipina untuk fokus kepada penyelamatan tahanan. Pemerintah juga sudah berkomunikasi dengan West Mindanao Command dari militer Filipina secara intens.

"Kita minta supaya pembebasan dilakukan dengan selamat dan bisa segera dilakukan dan Menteri Pertahanan Filipina akan bekerja sekeras mungkin untuk pembebasan tersebut," ungkap Retno.


Satu WNI Masih Disandera Abu Sayyaf
Masih ada satu lagi WNI yang berada di tangan kelompok bersenjata Abu Sayyaf yaitu Muhammad Farhan. Menteri Retno Marsudi, mengatakan jika Farhan dalam keadaan baik-baik saja.

"Kita juga sedang mencari informasi yang mengenai masalah kondisi ini, tapi InsyaAllah kondisinya memang baik, jadi saya juga belum bisa dapat mengatakan apapun," ungkapnya usai lakukan rapat tertutup di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (27/12).


Terlepas dari ini semua, pemerintah Indonesia juga terus melakukan komunikasi dengan Filipina perihal dari kasus penyanderaan ini.

"Kita memang masih terus saja berkoordinasi dengan pemerintah dan juga otoritas Filipina mengenai keberadaannya dulu, yang penting sebelum tahu kondisinya keberadaannya juga ada di mana karna mereka kan seperti biasa berpindah-pindah terus saja," ungkapnya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.