India Prediksi China akan Kerahkan Kapal Induk ke Samudra Hindia
China juga akan mengirim kapal induknya ke daerah wilayah
samudera Hindia. Demikian yang disampaikan oleh Wakil Laksamana Komando
Angkatan Laut Wilayah Selatan India, AK Chawla, Minggu (5/1).
Chawla yang menjadi pembicara pada agenda "Strategi
Maritim China", yang juga diselenggarakan dari Yayasan Maritim India.
Dia juga menyampaikan, Angkatan Laut China telah melakukan
pelanggaran di wilayah samudera Hindia dari 1985. Pada 2008, China juga mulai
memasuki wilayah tersebut dan dengan dalih patroli anti pembajakan.
"Kemudian China juga mengerahkan kapal selam nuklirnya
untuk tujuan yang memang sama. Pada 2012, China mulai mengerahkan sejumlah
kapal intelijennya dan juga mengumpulkan sinyal, intelijen elektronik dan juga pemetaan
dasar laut," ungkapnya, seperti yang dikutip dari Times of India, Senin
(6/1).
Pada tahun 2013, lanjut Chawla, China juga mengerahkan kapal
selam konvensional dan juga nuklirnya di wilayah tersebut.
"Mempertimbangkan seluruh pergerakan ini, China memang akan
menerjunkan kapal induknya di wilayah (Samudera Hindia) pada tahun-tahun yang
akan datang," ungkapnya.
Chawla telah mengatakan, China ingin berinvestasi cukup
besar pada proyek maritim utama dan non maritim, khususnya di Sri Lanka dan juga
Pakistan, supaya bisa membangun "pangkalan strategis".
Baca Juga : Cara Menang Bermain Di Judi Ceme Online
"Pergerakan ini adalah perhatian utama India pada saat
negara-negara ini juga harus melunasi utang kepada China dan juga nantinya
mereka juga akan menyerahkan proyeknya ke China. Sri Lanka juga menyerahkan
pelabuhan strategis Hambantota ke China dari atas kontrak sewa 99 tahun pada tahun
2017," ungkapnya.
BRI (Belt and Road Initiative) yang juga telah dibiayai China
menurutnya akan menjadi jebakan mati bagi negara-negara seperti Sri Lanka, Pakistan
dan lainnya dimana perusahaan-perusahaan China melakukan investasi besar pada
beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Koridor Ekonomi China Pakistan (CPEC) akan
juga menjadi bukti jebakan mematikan untuk Pakistan pada tahun-tahun mendatang.
"Pakistan juga harus membayar pinjaman ke China karna hal
ini. Faktanya, ia juga harus membayar setidaknya USD 7 miliar sampai USD 8
miliar pada setiap tahun dalam beberapa dekade. Dan Itu akan menyulitkan
Pakistan, untuk mengingat kondisi perekonomiannya pada saat ini," ungkapnya.
Dia juga menambahkan, pembangunan infrastruktur di pelabuhan
Gwadar, Provinsi Baluchistan, Pakistan yang akan memberi akses untuk AL China
ke Laut Arab dan juga akan menjadikan pakistan sebagai umpan untuk dapat melawan
India.
"Namun akan sangat sulit untuk AL China supaya melakukan
operasi dengan pasukan penuh di Samudera Hindia, mengingat lokasi geografisnya
dan pangkalan asing di sana," ungkapnya.
China juga meluncurkan dua kapal penghancur dan juga membangun
dermaga besar-besaran di pangkalan angkatan laut Djibouti di Samudra Hindia supaya
kapal induknya dapat merapat ke wilayah tersebut. Media pemerintah juga menggambarkan
2019 menjadi "tahun panen" untuk militer Cina, karna kepemilikan
berbagai jenis senjata modern.
China juga dilaporkan menambah kapal AL baru setiap bulan,
sebagaimana dilansir dari The Economic Times, Senin (6/1).
Dari merombak kembali doktrin militer pada tahun 2013,
militer China memperbesar AL pada rangka memperluas pengaruh China dan juga jangkauan
global.
China berencana untuk memiliki sekitar lima hingga enam
kapal induk pada beberapa tahun mendatang, menurut laporan media pemerintah.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan China, yakni
Kolonel Wu Qian sudah mengkonfirmasi laporan jika China sedang membangun
dermaga sepanjang 400 meter di Djibouti, Afrika untuk merapatkan kapal
induknya.
"Pembangunan dari fasilitas terkait berjalan sesuai
rencana," ungkapnya.


Post a Comment