Pakar Kesehatan Jelaskan Bahwa Sesungguhnya Tak Ada Superfood
Banyak orang yang mengambinghitamkan karbohidrat menjadi penyebab
bertumpuknya lemak atau gemuk pada tubuh mereka. Hal ini juga membuat banyak
orang secara langsung memangkas konsumsi nasi mereka dan juga mencari
alternatif karbohidrat lainnya.
Dr. Tirta Sari, Msc, Sp.Gk membahas mengenai kepercayaan
ini. Menurutnya, diet ini bukan hanya tentang jenis makanan yang telah dikonsumsi,
tapi juga tentang seberapa banyak dari jumlahnya.
“Anda makan kentang, namun jika makan kentang pada jumlah
yang berlebihan, Anda akan mendapatkan berat badan yang sama juga pada saat
anda makan nasi putih,” ungkapnya.
“Jadi diet ini tak hanya satu poin saja yang kita pikirkan.
Saya juga menghimbau bahwa tak ada yang disebut sebagai super food,” ungkapnya.
Tirta menjelaskan, superfood juga hanya terjadi apabila
dimakan dengan jumlah yang tepat dan dalam keseimbangan yang benar. Tapi, jika makanan
dikonsumsi secara berlebihan, makanan tersebut akan menjadi jahat kepada tubuh.
Misalnya saja, hanya dengan seseorang yang memuja buah
alpukat. Padahal, alpukat ialah sumber lemak. Jadi, jika terlalu, bisa juga
berdampak buruk untuk tubuh.
Jika kita berbicara tentang karbohidrat, di dalamnya juga
ada skala kualitas yang memang dihubungkan dengan kadar indeks glikemik --
kecepatan menaikan gula darah.
Jadi, pada hal ini seseorang juga perlu kecerdasan untuk memilih
jenis karbohidrat dengan kadar indeks glikemik yang cukup rendah. Jika kadar
glikemik tinggi, gula darah setelah mengonsumsi karbohidrat memang akan naik
dan turun dengan sangat cepat.
Dan jika kadar glikemik jatuh lebih cepat, kita juga akan
menjadi lebih gila lagi pada hal craving something. Jadi jika misalkan kita
makan donat, kita pasti akan kenyang pada waktu yang lebih pendek, dan
setelahnya kita akan menjadi lebih lapar daripada sebelum kita memutuskan akan makan
donat, ungkapnya.
Intinya, Tirta juga menekankan pentingnya puas setelah
makan. Jika seseorang tak puas, maka dia akan kelaparan sepanjang hari. Oleh karna
itu, dalam berbicara dengan pasiennya, dr Tirta selalu mendiskusikan makanan apa
yang paling disukai, apa juga yang paling membuatnya kelaparan, dan jika
pasiennya ingin mengonsumsi nasi, maka dia akan membicarakan cara menggunakan
nasi pada diet.
Tidak harus diganti dengan nasi merah, nasi putih juga dapat
pula disiasati dengan mencampurkannya dengan kacang hijau.
"Seperti orang korea. Jadi dia campur kacang merahnya
sedikit, atau kacang hijau, dan udah banyak produknya," kata Tirta.


Post a Comment